Tampilkan postingan dengan label kebudayaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kebudayaan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Mei 2014

Tradisi Kupatan


ABSTRAK
     
Tradisi kupatan (tradisi syawalan/ bada kupat) di Jepara merupakan tradisi yang selalu dilakukan oleh masyarakat Jepara pada sepekan setelah hari raya Idul Fitri atau pada tanggal 8 syawal di Pantai Kartini Jepara, dengan melarung kepala kerbau ke tengah lautan.  Maksud dari upacara pelarungan ini adalah sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Allah, yang melimpahkan rizki dan keselamatan kepada warga masyarakat nelayan selama setahun dan berharap pula berkah untuk masa depan.Tujuan diadakannya Pesta Lomban ini sebagai bentuk nyata peran Pemerintah Kabupaten Jepara dalam melestarikan budaya lokal Jepara, dalam hal ini sekaligus event untuk mempromosikan potensi wisata Kabupaten Jepara khususnya wisata budaya yang dimiliki Kabupaten Jepara.










BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Setiap tradisi yang mampu bertahan lama, pastilah melalui proses evolusi kebudayaan yang panjang dan memiliki kesamaan akan historis. Evolusi yang diikuti akulturasi itu, pada akhirnya menimbulkan keselarasan dan kecocokan dengan masyarakat penganutnya. Begitu halnya dengan tradisi kupatan atau lomban di Jepara.
Jepara yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan memiliki tradisi warisan dari para leluhur yang hingga kini masih disakralkan, yaitu Tradisi Syawalan (kupatan) atau disebut juga Pesta Lomban. Pesta Lomban merupakan tradisi tahunan yang sakral bagi masyarakat Jepara. Mereka menganggap ritual tersebut sebagai penolak balak, dan bisa memberikan rasa aman dan nyaman dalam bekerja.
Pesta Lomban merupakan pesta masyarakat nelayan di wilayah Kabupaten Jepara dalam bentuk sedekah laut. Namun kini sudah menjadi milik keseluruhan masyarakat Jepara, bukan nelayan saja. Pesta ini merupakan puncak acara dari Pekan Syawalan yang diselenggarakan pada tanggal 8 syawal atau 1 minggu setelah hari Raya Idul Fitri yang dirayakan di banyak daerah di Jawa Tengah. Pusat perayaan ini berada di Pantai Kartini, Jepara, namun bisa juga disaksikan di Ujung Gelam, Pantai Koin, Karimunjawa, serta beberapa tempat yang di tentukan sebelumnya.
Tujuan diadakannya Pesta Lomban ini sebagai bentuk nyata peran Pemerintah Kabupaten Jepara dalam melestarikan budaya lokal Jepara, sebagai salah satu bentuk kearifan lokal Jepara sekaligus event untuk mempromosikan potensi wisata Kabupaten Jepara khususnya wisata budaya yang dimiliki Kabupaten Jepara.Tradisi ini biasa disebut dengan “Bada Kupat”. karena pada saat itu masyarakat Jepara merayakannya dengan memasak kupat (ketupat) dan lepet disertai rangkaian masakan lain seperti : opor ayam, rendang daging, sambal goreng, oseng-oseng dan lain-lain. Selain itu, sering pula disebut “ Pesta Lomban ” karena merupakan puncak  acara dari Pekan Syawalan . Pesta Lomban terdiri dari sedekah laut, festival kupat lepet, serta pesta Lomban itu sendiri.

1.2.Rumusan Masalah
1.      Apa makna tradisi kupatan (lomban) bagi masyarakat Jepara ?
1.3.Tujuan
1.      Untuk mengetahui makna apa yang terkandung dalam tradisi kupatan (Lomban) bagi masyarakat Jepara.

1.4.Metode
1.      Literatur yaitu dengan cara membaca buku referensi dan dengan cara mencari sumber-sumber di internet.



























BAB II
PEMBAHASAN

Istilah Lomban oleh sebagian masyarakat Jepara disebutkan dari kata “Lomba-lomba” yang berarti masyarakat nelayan masa itu bersenang-senang melaksanakan lomba-lomba laut yang seperti sekarang masih dilaksanakan setiap pesta Lomban, namun ada sebagian mengatakan bahwa kata-kata lomban berasal dari kata “Lelumban” atau brsenang-senang. Semuanya mempunyai makna yang sama yaitu merayakan hari raya dengan bersenang-senang setelah berpuasa Ramadhan sebulan penuh. Yang pasti, bada lomban merupakan momen bagi para nelayan untuk bersenang-senang dalam merayakan Idul Fitri setelah menunaikan puasa sebulan penuh. Tidak hanya para nelayan, anak-anak yang tinggal di sekitar pantai menyemarakkan pesta rakyat tersebut dengan memakai baju warna-warni.
Selain pesta lomban, juga biasa dikenal bada kupat. Kupat adalah makanan tradisional yang tidak asing lagi bagi masyarakat khususnya masyarakat Jawa Tengah . Secara harfiah, ketupat (kupat) merupakan jenis makanan yang dibuat dari pembungkus pelepah daun janur yang di dalamnya berisi beras yang sudah matang. Ketupat ini hanyalah merupakan bentuk simbolisasi yang bermakna hati putih yang dimiliki oleh seseorang yang kembali suci.
             Ketupat dalam bahasa Jawa berasal dari singkatan “Ngaku Lepat” yang berarti mengakui kesalahan. Maknanya, dengan tradisi ketupat diharapkan setiap orang mau mengakui kesalahan, sehingga memudahkan diri untuk memaafkan kesalahan orang lain. Singkatnya, semua dosa yang ada akan saling terlebur bersamaan dengan hari raya idul fitri. Selain itu ketupat mengandung empat makna yakni: lebar, lebur, luber dan labur. Lebar artinya luas, lebur artinya dosa atau kesalahan yang sudah diampuni, luber maknanya pemberian pahala yang berlebih, dan labur artinya wajah yang ceria. Secara keseluruhan bisa dimaknai sebagai suatu keadaan yang paling bahagia setelah segala dosa yang demikian besar diampuni untuk kembali menjadi orang yang suci dan bersih.
Bentuk ketupat yakni segiempat, menjdai simbol atau perwujudan cara pandang “kiblat papat lima pancer” yang menegaskan adanya hamonisasi dan keseimbangan alam. Empat arah mata angin utama yaitu timur, selatan, barat dan utara yang bertumpu pada satu pusat. Maknanya adalah bahwa dalam kehidupan ini, ke arah manapun manusia melangkah hendaknya tidak pernah melupakan pancer yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
Maksud dari upacara pelarungan ini adalah sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Allah, yang melimpahkan rizki dan keselamatan kepada warga masyarakat nelayan selama setahun dan berharap pula berkah dan hidayahnya untuk masa depan. Selain itu pelarungan ditujukan sebagai salah satu bentuk rasa hormat kepada Yang Maha Penguasa ‘sing mbaurekso’ sebagai ruh para leluhur yang mereka percaya dapat menjaga dan melindunginya dari segala ancaman marabahaya dan mala petaka.                                         
Tradisi upacara yang masih bertahan dapat memberi gambaran bahwa masyarakat nelayan masih memegang teguh adat istiadat yang diwarisi secara turun-temurun. Kepercayaan terhadap leluhur, roh halus merupakan manifestasi keteguhan hati yang masih mengakar pada diri nelayan Jepara dalam hal nguri-uri kebudayaan leluhurnya
























BAB III
KESIMPULAN


Simpulan
Pesta Lomban merupakan tradisi yang sakral bagi masyarakat Jepara hingga sekarang ini. Pesta Lomban juga sering disebut bada kupat oleh masyarkat Jepara, karena dalam tradisi tersebut Kupat merupakan simbolisasi yang bermakna hati putih yang dimiliki oleh seseorang yang kembali suci. Makna dari tradisi yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali ini adalah sebagai wujud syukur atas nikmat dan hidayah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan keselamatan dan keberkahan kepada para nelayan dalam pekerjaannya melaut. Selain itu pelarungan ditujukan sebagai salah satu bentuk rasa hormat kepada Yang Maha Penguasa ‘sing mbaurekso’ sebagai ruh para leluhur yang mereka percaya dapat menjaga dan melindunginya dari segala ancaman marabahaya dan mala petaka.





















DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2002. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.
http://sosbud.kompasiana.com/2013/08/15/makna-dibalik-tradisi-kupatan-584377.html







Sabtu, 24 Mei 2014

Cerita Rakyat Saking Jepara



Asal-usul Ratu Kalinyamat

Nyeritaake Papan Kecamatan Kalinyamatan iku mesthi ora luput saka asal-usul Pangeran lan Ratu Kalinyamat. Piyambakipun yaiku wong sing duweni lelabuhan sanget gedhene ana ing Kabupaten Jepara mliginipun Kecamatan Kalinymatatan. Nama asline Ratu Kalinyamat yaiku Retna Kencana, putri saka Sultan Trenggono.
Pangeran Kalinyamat sejatine ora saka pulo Jawa, nanging saka Aceh. Nama asline yaiku Raden Toyib. Piyambakipun putra saking raja Aceh, yaiku Syech Mukhayyat Syah. Ing kono Raja Mukhayyat Syah banget anggone dikormati marang masarakat, merga pamarentahane sing jujur lan apik tanpa cacad.
Salah sawijning dina Pangeran Kalinymata diciderani marang tiyang sing ora seneng marang piyambakipun. Nganti-nganti warga isa ngusir dateng Pangeran Kalinyamat merga merga panyana sing ora-ora marang Pangeran Kalinyamat mau.
Pangeran Kalinyamat lan Bapake pindah ana ing pulo Jawa. Pangeran Kalinyamat ngedegake Desa Kalinyamat. Ing kono Pangeran Kalinyamat ketemu karo Retna Kencana,putri Bupati Jepara banjur kenalan. “Sapa jenengmu nimas ayu kang lumampah piyambakan?”, tembunge Pangeran Kalinyamat nalikane ketemu karo Retna Kencana.
“Kula Retna Kencana Kangmas. Panjenengan sinten nggih? Wonten keperluan napa nggih?” jawabe Retna Kencana kanthi wedi merga lagi sepisanan ketemu.
“Aku Toyib nimas. janjane ora ana apa-apa nimas, nanging aku pengin tepang marang sliramu.” Ujare Pangran Kalinyamat nyauti pitakone Retna Kencana.
Banjur Pangeran Kalinyamat lan Retna kencana omong-omongan nganti kalorone mau cedhak lan tepang siji marang sijine. Ing kono Pangeran Kalinyamatan seneng sanget, merga panyanane Retna Kencana iku bakal dadi jodone.
Sasuwene kenal lan cedhak, banjur Pangeran Kalinyamat lan Retna Kencana dhaup. Sawise dadi garwane Pangeran Kalinyamat, Retna Kencana pikantuk gelar Ratu Kalinyamat. Pangeran Kalinyamat dadi kulawarga kerajaan Demak lan pikantuk gelar Pangeran Hadirin Sawise dhaup kalihan Retna Kencana.
Pangeran Kalinyamat anggene dadi pemimpin menika dadi pemimpin sing adil, tanggil jawab, ora pilih kasih lan ramah marang liyan. Kamangka iku piyambake disegani kalihan warga lan tiyang kang tepang marang piyambake mau.  
Nalika abad 15 Sunan Prawata raja Demak kaping papat gugur dipateni kongkonan Arya Penangsang sedulure sing dadi Bupati Jipang. Ing kono Ratu Kalinyamat weruh keris Kyai Betok duweke Sunan Kudus kang nancep ing mayite kakange. Mula iku Pangeran lan Ratu Kalinyamat ora terima, banjur mangkat menyang Kudus golek kabeneran lan keadilan.
Sowane Pangeran lan Ratu Kalinyamat menyang kudus jebul dadi pituduh yen sabenera Sunan Kudus iku dadi bebelane Arya Penangsang gedur minangka ngrebutake warisan raja Trenggana. Tekane Pangeran lan Ratu Kalinymat ana ing Kudus banjur takon, jaluk pituduh marang Sunan Kudus. Ing kono Pangeran Kalinyamat nganti ora isa sabar ngereh-ereh atine.
“Kena apa kakangku kok perjaya Kanjeng Sunan?”, nggetake Pangeran Kalinymat tanpa ngerti jluntrungane kepiye.
 Ing kono Sunan Kudus jelasake, “Sunan Prawata nalika esih nom mateni Pangeran Sekar Seda Lepen bapake Arya Penangsang, mula kadadean iki dianggep balesan saka kelakuane dhisek”.
“Apa ya kudu kaya ngono balesane?”, saute Ratu Kalinyamat rada dhuwur swarane merga ora lila yen kakange pranyata wis mati.
Wangsulane Sunan Kudus kanthi tenang tanpa rasa duka, “Nyatane takdir wis kaya mangkono, kabeh iku mau wis dadi pesthine saka Gusti kang Akrya Jagad. Dadi ora kudu dipermasalahno maneh Raden”.
“Ora kanyana kaya mangkono matrapmu, aku ora lila yen kadadean sabenere kaya mangkono”. Saute Pangeran Kalinyamat.
Sawise Sunan Kudus jelasake kaya mangkono, Pangeran lan Ratu Kalinyamat ora isa ngomong apa-apa maneh. Nanging sejatine ing ati kalorone mau ora isa diapusi yen ora trima marang apa sing wis dilakokae karo Sunan Prawata, kakange Ratu Kalinyamat. 
Pangeran lan Ratu Kalinyamat kuciwa marang sikape Sunan Kudus, banjur bali menyang Jepara. Nalika pamit bali menyang Jepara mau, Pangeran lan Ratu Kalinyamat ora nyana yen dheweke karo bojone ditutke ana ing mburi dening utusane Arya Penangsang. Arya Penangsang duweni kekarepan yen utusane mau bisa mateni Pangeran lan Ratu Kalinyamat mau sadurunge tekan Jepara.
Ing tengah dalan Pangeran lan Ratu Kalinyamat dicegat lan dikroyok kongkonane Arya Penangsang. Awale Pangeran lan Ratu Klainyamat ora ngerti sejatine sapa la ana perlu apa dheweke dicegat.  Ing kono kadadean perang kang sengit amarga Pangeran Kalinyamat belani awake dhewe lan bojone. Nanging akhire  Pangeran Kalinyamat seda.
Critane sadurunge seda, nalika iku Pangeran Kalinyamat esih isa ngrambat-ngrambat, saengga panggonan mau diarani Desa Prambatan. Ing peperangan mau Ratu Kalinymat uga diciderani marang pengroyok mau, nanging ora banget anggone ngrasa lara. Sadurunge lunga para pangroyok mau ngaku yen diutus saka Arya Penangsang supaya nyedani Pangeran Kalinyamatan. Bareng ngerti sapa sejatine ana ing mburinan kedadean iki mau Ratu Kalinyamat duka lan sumpah marang awake dhewe kalihan marang mayite bojone.   
Sawise iku Ratu Kalinyamat gawa mayite bojone nglewati kali, ing kono getih sing metu saka awake bojone mili kecampur banyu kali lan dadeake werna banyu kali mau ungu. Mangka nganti saiki diarani Kaliwungu. Saya suwe saya mangulon Ratu Kalinyamat krasa kesel lan lesu, mlakune nganti sempoyongan (moyang-moyong), sing saiki papan panggonan kuwi mau dijenengi Mayong. Nalika tekan Purwogondo, sing diarani kuwi mau merga mayite Pangeran Kalinyamat mulai ngetokake mambu sing beda. Sawise iku Ratu Kalinyamat mlaku maneh nganti nglewati Pecangaan lan pungkasane tekan Mantingan. Ana ing mantingan mau mayite Pangeran Kalinyamat (Sultan Hadirin) dikubur. Nganti saiki makame dadi papan panggonan sing asring diparani masarakat sekitar lan masarakat liyane kanggo golek kaberkahan.
Sawise bojone mati, Ratu Kalinyamat sabenere pikantuk tugas ingkang awrat sanget, yaiku ganteni tahta pamarentahane bojone. Nanging Ratu Kalinyamat ora gelem merga durung siap. Malahan ngucap janji, “Aku arep nglakoni tapa wuda ing Gunung Danareja kang dadi wujud dukaku merga Pangeran Hadirin seda” kanggo tandha tresna lan bekti marang bojone.
Krungu ujare sing kaya ngono mau, Adipati Wijaya menggak supaya ora sida ngelakoni tapa tanpa busana mau. “Aja cepet-cepet mutuske kaya mangkono Nyai Ratu Kalinyamat, apa ya ora mesakake marang wargamu kabeh?”.
“Aku wis janji marang awakku dhewe Wijaya, aku ora bakal mundur saka apa sing dakucapake.” Jawabe Ratu Klainyamat kanthi teges.
Ratu Kalinyamat tetep ora nggagas nasehate adhi ipene mau. Ratu Kalinyamat tetep nglakoni tapa wuda ana ing Gunung Danareja. Dheweke ngucap yen ora bakal gelem nganggo klambi yen durung ngeti tugele sirahe Arya Penangsang. Nganti Adipati Wijaya nyusul marang Ratu Kalinyamat. Ing kono adhi ipene mau ngajak yen Ratu Kalinyamat supaya bali marang Keraton, nanging ora gelem. Merga Ratu kalinyamat duweni tekad marang kekarepane yen Arya Penangsang kudu mati mula dheweke gelem bali marang keraton. Sing dadi kekarepane yaiku yen adhi ipene sing aran Hadiwijaya (Jaka Tingkir), bupati Pajang bakal isa mateni Arya Penangsang lan gawa sirahe ana ing ngarepe tapane Ratu Kalinyamat.
Nalika nglakoni tapa tanpa busana Ratu Kalinyamat entuk wangsit, sing isine dadeake tambah kuwat kapribadene lan teges anggone tumindak. Iku mau pratanda yen piyambakipun bakal dadi pemimpin sing jujur, teges lan adil marang kaume.
Hadiwijaya nganaake sayembara yen sapa wonge sing isa mateni Arya Penangsang bakal diwenehi hadiah, yaiku tanah Mataram lan Pati. Amarga  Hadiwijaya ora gelem ngadhepi Arya Penangsang merga esih padha-padha kulawarga Demak. Awale ora ana sing wani melu sayembara mau. Lajenng Hadiwijaya ngajak rembagan kalihan Ki Pamanahan, Ki panjawi dan Ki Juru Mertani. Ing pirembagan mau entuk keputusan yen Danang Sutawijaya sing maju ngadhepi Arya Penangsang. Mangkate Sutawijaya digawani pusaka sekti kang awujud tombak, yaiku duweni jeneng Kyai Pleret. Sutawijaya uga kairing kalihan Ki Pamanahan, Ki Panjawi, Ki Juru Mertani serta 200 perjurit lunga menyang bengawan Coket, siaga ngadhang Arya Penangsang.
Ing akhire Arya Penangsang diperjaya dening Sutawijaya  nganggo tombak. Merga Arya Penangsang nyepeleake apa sing dadi pantangan marang awake yaiku ora kena nglewati Bengawan Coket nalika arep perang. Nanging dheweke ora percaya lan tetep nglanggar.
Nuruti apa sing diucapake nalika arep nglakoni tapa wuda, yen Ratu kalinyamat bakal gelem nganggo busana maneh yen ngerti Arya Penangsang mati. Sawise mungkur saka tapane, Ratu Kalinyamat diangkat dadi bupati Jepara. Piyambakipun ngemban tugas nerusaken pamarentahan bojone sing mandheg sawetawis.
Pancen kabukti nalikane tapa Ratu Kalinyamat pikantuk wangsit. Pranyata Ratu Kalinyamat iku dadi pamarntah sing teges lan adil. Dadi pangajeng-ajeng kaume yen piyambake dadi wanita sing prakasa lan adil marang kabeh kaume.
Matine Arya Penangsang dadeake wilayah Demak, Jepara lan Jipang iku ana ing sangisore pamarentahan Pajang sing dipimpin Hadiwijaya. Ananging Hadiwijaya tetep hormat marang Ratu Kalinyamat merga dianggep dadi tokoh sing luwih sepuh. Amarga Hadiwijaya iku duweni sifat kang tetep khormat marang sapa wae kang dianggep luwih sepuh saka dheweke.  
Ing jaman pamarentahan Ratu Kalinyamat serik banget lan anti banget marang Portugis sing njajah. Mula ngirim perjurit kanggo nglawan Portugis, supaya isa bebasna Malaka saka Portugis. Ing penyerbuan kapisan iki prajurit Jepara kalah lan diarahke mundur supaya ora mati kabeh ana ing perang nglawan Portugis. Pranyata  prajurit saka Jepara sing mati akeh, nanging iku mau ora dadeake wedi Ratu Kalinyamat nyerang lan nglawan Portugis maneh.
Nalika akhir abad 16 Ratu Kalinyamat dijaluki tulung Sultan Aceh kanggo nyerbu Malaka. Ratu Kalinyamat ngirim prajurit sing cacahe ana ewunan. Tekan Malaka jebul pasukan sing saka Aceh wis diserang lan kalah. Ana ing kono prajurit Jepara gawe strategi kanthi gawe benteng pertahanan kanggo nglawan Portugis. Prajurit Jepara nyerang nembaki saka selat Malaka. Serangan saka prajurit Jepara ora ana apa-apane marang prajurit Portugis. Nalika Portugis mulai nglawan serangane prajurit Jepara lan Aceh, benteng pertahanan sing digalakke prajurit Jepara akhire runtuh lan kalah. Prajurit Jepara mundur merga pasukane akeh sing gugur ana ing peperangan.
Kekalahan sing kaping loro iki tetep wae ora dadeakke Ratu Kalinyamat lemah, nanging tetep ngetokake yen dheweke iku wanita sing tangguh lan kendel. Nganti Portugis nyebut yen “Ratu Jepara adalah seorang wanita yang kaya dan berkuasa, dan juga seorang wanita yang pemberani dan tangguh”. Jaman memerintah Ratu Kalinyamat kagolong dadi Ratu kang adil, ora mbedaake sedulur yen pancen salah tumindake.
Suwe anggone mimpin Jepara, Ratu kalinyamat seda. Sadane nalika taun 1579. Dheweke dikubur ana ing Yogyakarta. Nanging akeh sing nganggep yen makame Ratu Kalinyamat iku ana ing Mantingan, yaiku sandhinge makam Sultan Hadirin. Nanging iku mau namung simpang siur. Sing sabenere makame yaiku ana ing Yogyakarta.
Labuh labete Ratu Kalinyamat marang Jepara pancen ora perlu diingkari, merga piyambakipun salah satunggaling wanita kang bisa dadi panutan marang generasi wanita samenika lan sateruse. Amarga duweni kapribaden kang jujur, tangguh lan adil marang sapa wae tanpa mbedaake iku mau sedulur utawa lawan.
Ana cerita lan iku wis kabukti yen neng masjid cedhak makame Sultan Hadirin iku ana sumber banyu, yen sapa wonge isa gawa banyu mau nganti tekan Yogyakarta, makame Ratu Kalinyamat tanpa wutah banyu mau lan nyiramake banyu mau ana ing makame Ratu Kalinyamat, mangka wong mau bakal gampang anggone golek rejeki. Nanging nyatane ora akeh sing isa nglakoni perkara kaya ngono mau. Amarga wis ana conto nyata.
Kanggo ngormati lan ngeling-eling apa kang tau diperjuangke Ratu Kalinyamat, masarakat Kriyan, kecamatan kalinyamatan nganaake arak-arakan kanthi simbol sosok Ratu Kalinyamat. Arak-arakan iku mau dianaake setiap malam nisfu sya’ban. Arak-arakan iku mua dumulai saka Masjid Al-Makmur (Desa Kriyan) nganti tekan latar kantor kecamatan. Arak-arakan biasane diiringi impes (Lampion).
Konon ceritane sing dadi simbol Ratu Kalinyamat iku kudu ayu, merga Ratu Kalinyamat iku wanita kang ayune ora ana tandhingane nalikane isih urip. Sing dadi paraga mau kudu diaudisi saka cah SMA lan sing kepilih dadi paraga iku mau kudu nglakoni tirakatan, yaiku pasa pitung dina sadurunge prosesi arak-arakan. - (Cesc_AS)

PAKUBUWANA IX: MORAL SPIRITUAL DALAM SERAT WULANG PUTRI WIRA ISWARA




Membahas sosok Pakubuwana IX tak lepas dengan sejarahnya dengan keraton Surakarta. Pakubuwana IX dengan nama asli Raden Mas Duksino adalah putra dari Pakubuwana VI. Ia lahir pada tanggal 22 Desember 1830. Setelah dewasa, Raden Mas Duksino bergelar KGPH. Prabuwijaya. Pakubuwana IX naik takhta menggantikan Pakubuwana VIII (paman ayahnya) pada tanggal 30 Desember 1861. Pemerintahannya ini banyak dilukiskan oleh Ronggowarsito dalam karya-karya sastranya, misalnya dalam Serat Kalatida. Pada karyanya Rongowarsito memuji Pakubuwana IX sebagai raja bijaksana, namun dikelilingi para pejabat yang suka menjilat mencari keuntungan pribadi. Zaman itu disebutnya sebagai Zaman Edan. Pada masa menjabat menjadi raja Pakubuwana IX telah banyak berjasa pada kemajuan keraton Surakarta. Bangunan fisik Keraton Surakarta banyak yang direnovasi, seperti Siti Hinggil, Panggung Sangga Buwana, dan lain-lain, sehingga ia juga terkenal dengan sebutan Sinuhun Bangun Kadhaton. Sebagai seorang raja, Pakubuwana IX juga aktif menulis karya sastra, di antaranya Serat Wulang Putri, Serat Jayeng Sastra, Serat Menak Cina, Serat Wirayatna, dan beberapa karya sastra lainnya.
Karya-karya Pakubuwana IX banyak yang terkenal karena isinya merupakan ajaran-ajaran atau pedoman dalah kehidupan sehari-hari. Salah satu karyanya yaitu Serat Wulang Putri. Secara garis besar, kandungan serat Wulang Putri tersebut memuat ajaran-ajaran yang sarat dengan nasehat diantaranya: 1). Diingatkan agar para putri memiliki kepercayaan yang teguh terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dinasehatkan agar senantiasa berikhtiar semaksimal mungkin dan memiliki keteguhan iman yang kuat dalam menjalani kehidupan ini. 2). Agar para putri (PB. IX) mempunyai budi pekerti yang luhur dengan memiliki kekuatan mental yang akan menopang segala sesuatu yang akan ditindaknya, dengan mempertimbangkan segala sesuatunya secara bijaksana dan han-han. 3). Dijelaskan tentang macam-macam kebahagiaan hidup, dan laku yang hendaknya ditempuh guna mencapainya adalah dengan jalan tapa brata, guna membersihkan dari pikiran dan perbuatan yang tidak baik, ammoral. Isi dari serat tersebut sangatlah baik jika diterapkan pada kehidupan sehari-hari, karena merupakan pitutur untuk kaum wanita dalam pencapaian jati diri yang baik dan luhur.
Di dalam Serat Wulang Putri terdapat beberapa naskah yang salah satnya yaitu Serat Wulang Putri Wira Iswara. Serat tersebut adalah sebuah tembang Jawa yang merupakan nilai moral lama dalam masyarakat Jawa. Serat ini berisi tentang bagaimana kriteria wanita ideal pada zaman itu. Dijelaskan bahwa kedudukan wanita dalm serat ini adalah dibawah kedudukan pria. Maksud dari penjelasan itu bertujuan untuk tidak menjadikan wanita bertindak melebihi apa yang dilakukan oleh para kaum pria. Dalam falsafah jawa wanita itu harus wani ditata (mau diatur) dan hanya sebagai rencang wingking (pembantu). Kaum wanita diposisikan sedemikian rupa guna terciptanya suatu tatanan dan pranata sosial yang disiplin, mengingat sangat tingginya nilai moralitas dan etika dalam kultur dan falsafah Jawa. Kelemah lembutan yang dimiliki dan harus ada pada wanita Jawa telah dikenal berbagai kalangan, yang bila kita mampu mencermati di dalam kelemah lembutannya wanita bisa memperlihatkan dirinya (sebagai ego), derajat, kedudukannya, dan jati dirinya.
Wanita Jawa pada khusunya, memiliki peranan yang sangat unik dalam mengekspresikan kodrat-kemampuannya. Ia akan menelusuri perjalanan hidupnya seiring dan sejalan dengan peradaban yang realitas sosialnya sarat dengan nilai moralitas yang sangat tinggi. Perangai wanita akan sangat menentukan bagaimana masyarakat akan menilainya, dan wanita Jawa akan mampu menghargai dirinya dengan juga menghargai adat moral budayanya.
Nilai moral spiritual yang tercermin pada Serat Wulang Putri Wira Iswara adalah dengan melihat bagaimana wanita Jawa mengolag rasa, cipta, dan karsanyadalam usaha penyerahan dirinya kepada kekuatan yang tak mampu terjangkau oleh apapun ‘tan kena kinaya ngapa’, yaitu Sang Hyang Maha Mutlak. Semua itu dengan tujuan mewujudkan insan yang suci atau tingkat manusia yang utama pada umumnya. Dalam hal ini pada citra wanita utama khususnya, yaitu membentuk kepribadian wanita yang memiliki jiwa sosial, bermoral yang dilandasi oleh semangat spiritualitas jiwa keagamaan. Dengan mengkaji naskah Serat Wulang Putri Wira Iswara karya Pakubuwana IX, yang pada masa itu ditujukan kepada putri-putrinya sebagai nasehat dan pengajaran bagi wanita guna memperlancar tugas-tugas yang akan diemban dalam hidupnya.
Era yang baru.
Dikehidupan dengan era globalisasi saat ini, semua teori atau pandangan yang berisikan pitutur atau bahkan tuntunan hidup bagi wanita dalam mencapai kesempurnaannya telah dipatahkan. Yang dulunya seorang wanita itu hanya sebagai pelengkap dalam kehidupan kaum pria, yang juga derajatnya selalu di bawah dari kaum pria kini telah berubah begitu derastis. Mungkin hal itu dilandasi oleh tokoh pejuang bangsa wanita asal Jepara yaitu R.A Kartini. Ia lah yang menjadi tokoh emansipasi wanita bagi kehidupan saat ini. Pada nyatanya banyak kaum wanita yang derajatnya sejajar dengan kaum pria, misalnya dalam bekerja. Tak sedikit wanita sekarang yang menjadi tulang punggung keluarga walaupun masih mempunyai suami yang masih dalam keadaan sehat sekalipun. Kaum wanita di zaman yang modern saat ini juga sudah mulai sulit untuk diatur. Mereka cenderung ingin mengekspresikan jati dirinya dengan sebebas-bebasnya.
Banyak yang terjerumuskan karena keingin bebasan dalam berekspresi. Itu tak ubahnya menjadikan martabat kaum wanita begitu sangat rendah dikalangan masyarakat. Beberapa (kaum wanita) yang tak ikut dalam perkembangan zaman yang serba glamour ini ikut merasakan akibatnya. Itulah yang menjadikan miris sekali kehidupan kaum wanita pada saat ini. _CescAS